Jumat, 25 Oktober 2013

PEMBUATAN SISTEM INFORMASI KEUANGAN BERBASIS WEB


PEMBUATAN SISTEM INFORMASI KEUANGAN BERBASIS WEB
PADA CV.ANUGRAH ABADI.



Disusun oleh:
Nama Nopemberianus Lahagu
Nim : A2.1100182

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
(STMIK SUMEDANG)
2013








INTISARI 
Sistem Informasi Keuangan Berbasis Web pada CV.Anugrah Abadi merupakan bagian dari Sistem Informasi Akuntansi yang sangat membantu pengambilan keputusan bagi user dalam pembutan laporan keuangan. Dengan sistem informasi keuangan ini pemilik perusahaan dengan mudah dapat menentukan laporan keuangan perusahaan apakah perusahaan laba atau rugi. Pemilik Perusahaan juga bisa membuat laporan dari setiap masing – masing data seperti pembuatan laporan data perkiraan, laporan data jurnal umum, laporan data pemasok, laporan data pembeli dan laporan  lain - lain.  Kesulitan pembuatan laporan keuangan dapat diatasi dengan benar dari pengimputan data transaksi sampai pembuatan laporan neraca dimana laporan neraca akan menentukan apakah perusahaan tersebut mengalami laba atau rugi buakan hanya itu untuk menentukan apakah perusahaan mengalamin laba atau rugi bisa di buat laporan laba rugi..  Sisi lain dari layanan ini bisa menjadi media konsultan digital dalam menentukan pembuatan laporan keuangan yang diinginkan sesuai dengan transaksi yang terjadi. Kata kunci : Teknologi informasi, internet, web

ABSTRACT  
Web-based Financial Information Sistem on CV.Anugrah Abadi is part of the Accounting Information Sistems are very helpful for the user in decision making create financial statements. With this financial information sistems company owners can easily determine the company's financial statements if the company profits or losses. Company owners can also make a report of every individual - each data such as preparing reports estimated data, general ledger data reports, report data suppliers, buyers data reports and other reports - others. The difficulty of making financial reports can be tackled properly from insert transaction data to report the balance sheet where the report will determine whether the company is experiencing a gain or loss not only to determine whether the companies could undergo a gain or loss made profit / loss. The other side of this service can be a digital media consultant in determining the desired financial report in accordance with the transaction occurred. Key words: information technology, internet, web.




1. Pendahuluan
Akuntansi berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sejarah perkembangan pemikiran akuntansi dibagi dalam tiga periode: tahun 4000 SM – 1300 M; tahun 1300 – 1850 M, dan tahun 1850 M sampai sekarang. Masing-masing periode memberi kontribusi yang berarti bagi ilmu akuntansi. Pada periode pertama akuntansi hanyalah bentuk record-keeping yang sangat sederhana, maksudnya hanyalah bentuk pencatatan dari apa saja yang terjadi dalam dunia bisnis saat itu. Periode kedua merupakan penyempurnaan dari periode pertama, dikenal dengan masa lahirnya  double-entry bookkeeping. Pada periode terakhir banyak sekali  perkembangan pemikiran akuntansi yang bukan lagi sekedar masalah debit kiri – kredit kanan, tetapi sudah  masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi yang luar biasa juga berdampak pada perubahan ilmu akuntansi modern.Pengguna akuntansi juga bervariasi, dari yang sekedar memahami akuntansi sebagai: 1) alat hitung menghitung; 2) sumber informasi dalam pengambilan keputusan; 3) sampai ke pemikiran bagaimana akuntansi diterapkan sejalan dengan (atau sebagai bentuk pengamalan) ajaran agama. Bila dihubungkan dengan kelompok usaha kecil dan menengah tampaknya pemahaman terhadap akuntansi masih berada pada tataran pertama dan kedua yaitu sebagai alat hitung menghitung dan sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan.Informasi akuntansi berhubungan dengan data akuntansi atas transaksi-transaksi keuangan dari suatu unit usaha, baik usaha jasa, dagang maupun manufaktur.Supaya informasi akuntansi dapat dimanfaatkan oleh manajer atau pemilik usaha, maka informasi tersebut disusun dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.Arus informasi akuntansi keuangan dari perusahaan kecil sangat bermanfaat untuk mengetahui bagaimana perkembangan usaha perusahaan, bagimana struktur modalnya, berapa keuntungan yang diperoleh perusahaan pada suatu periode tertentu.Dari uraian tersebut jelas bahwa industri menengah banyak mengalami kesulitan dalam memahami informasi akuntansi dengan baik. Padahal dengan semakin ketatnya persaingan bisnis dalam era globalisasi ekonomi, hanya perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif yang akan mampu memenangkan persaingan. Keunggulan tersebut diantaranya adalah kemampuan dalam mengelola berbagai informasi, sumber daya manusia,alokasi  dana, penerapan teknologi, sistem pemasaran dan pelayanan. Sehingga manajemen perusahaan yang profesional merupakan tuntutan yang harus segera dipenuhi untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan perusahaan secara baik.Melihat begitu banyak peranan dan manfaat informasi akuntansi dalam menciptakan arus informasi keuangan guna menunjang kelangsungan hidup (going concern) industri menengah, maka melalui penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pengetahuan akuntansi, sakala usaha,  pengalaman usaha dan jenis usaha terhadap penggunaan informasi akuntansi  pada industri menengah.Pengolahan data pada “CV.Anugrah Abadi “ saat ini masih dilakukan secara manual. Data-data yang ada disimpan dalam bentuk asip, dengan cara ini kurang efektif dan efisien karena mempunyai keterbatasan yaitu lambat dalam proses pencarian data.selain itu laporan akuntansi yang berupa laporan keuangan yang masih dikerjakan secara manual membuat laporan yang dihasilkan tidak akurat,sehingga pimpinan sulit mengetahui keuangan perusahaan.Karena alasan itulah,penulis mengadakan penelitian untuk menganalisi, merancang dan membangun sitem informasi sehingga bisa menghasilkan informasi akuntansi keuangan pada “CV.Anugrah Abadi” serta berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan sitem yang ada menjadi lebih baik dan lebih efektif. Oleh karena itu,dalam penelitian ini penulis mengambil judul“Pembuatan Sistem Informasi Keuangan Berbasis Web pada CV.Anugrah Abadi”.
1. Landasan Teori
Definisi Sistem
Sistem dapat di definiskan dengan dua pendekatan,yaitu pendekatan prosedur dan pendekatan komponen.Pendekatan prosedur mendifinisikan sistem sebagai kumpulan dari prosedur – prosedur yang mempunyai tujuan tertentu.( Jogianto, HM,Sistem teknologi informasi, pendekatan: konsepdasar, teknologi, aplikasi, pengembangan dan pengolahan,hal 4).Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur – prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama- sama untuk menentukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu.( Jerry FitzGerald, Ardaf, FitzGerald, werren D.stalling, jr.,fundamentals of sistem analysis2 Edition,hal 5.)Definisi sistem secara pendekatan komponen adalah sekelompok komponen yang saling berhubungan,bekerja  sama untuk mencapai tujuan bersama dengan input serta mengahsilkan output dan proses transformasi yang tertentu.(James A.O’ Brien,Pengantar sistem informasi perpektif binis dan manajerial, hal 29).Secara sederhana, menentukan  Robert G.Murdick, Thomas C.Fuller dan Joel E.Ross, sistem adalah sekumpulan dari elemen – elemen yang berinteraksi satu sama lain untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut. Meskipun berbeda cara pendekatannya, kedua definisi sistem di atas tidaklah bertentangan. Pendekatan sistem secara prosedur lebih menekatkan pada prosedurnya atau pada urutan –urutan operasi klerikal (tulis-menulis) di dalam sistem.Dengan demikian, system yang menekankan pada prosedurnya akan lebih mudah digambarkan dengan pendekatan prosedurnya.Sedangkan untuk pendekatan komponen akan lebih tepat digunakan untukmengambarkan sistem yang fisiknya lebih terlihat.
2. Analisisdan Perancangan Sistem
3.1 Analisis Kebutuhan Sistem
Untuk mengidentifikasi masalah, maka harus melakukan analisis terhadap kinerja, informasi, ekonomi, keamanan aplikasi, efisiensi pelayanan pelanggan. Panduan ini di kenal dengan PISCES Analisis(Performence,Information, Economy,Control,Efficiency,Service)dari analisis ini biasanya didapatkan beberapa masalah dan biasanya ditemukan masalah utamanya.
3.2 Analisis Kebutuhan Sistem
Tujuan dari fase analisis adalah memahami dengan sebenar-benarnya kebutuhan dari sistem baru dan mengembangkan sebuah sistem yang mewadahi kebutuhan tersebut, atau memutuskan bahwa sebenarnya pengembangan sistem baru tidak dibutuhkan.Untuk mempermudah analis sistem dalam menentukan keseluruhan kebutuhan secara lengkap, maka analis membagi kebutuhan sistem ke dalam 2 jenis.Jenis pertama adalah kebutuhan fungsional dan jenis kedua adalah kebutuhan nonfungsional.
3.2.1 Kebutuhan Fungsional.
Jenis kebutuhan yang berisi proses-proses apa saja yang nantinya dilakukan oleh sistem. Kebutuhan fungsional juga berisi informasi-informasi apa saja yang harus ada dan dihasilkan sistem.
Tabel 3.9. Kebutuhan Fungsional.
N0
Fitur
                                                  Deskripsi
1
Perkiraan
Fitur transaksi digunakan untuk menampilkan nama perkiraan secara keseluruhan ada proses input data perkiraan, edit data perkiraan dan delete data perkiraan.
2
profil
 Fitur profil digunakan untuk menampilkan data profil perusahaan di fitur ini hanya admin yang mempunyai hak akses dan di fitur ini hanya bisa mengedit data profil. 
3
karyawan
Fitur data karyawan digunakan untuk menampilkan data karyawan di fitur ini admin bisa input data karyawan,edit data karyawan dan hapus data  karyawan.dan user hanya mempunyai akses edit data karyawan.
4
Data Produk
Fitur data produk digunakan untuk menampilkan data produk dan yang mempunyai hak akses admin mempunyai hak akses input data produk, edit data produk , dan hapus data produk.
5
Jurnal
Umum
Fitur jurnal umum digunakan untuk pencatatan transksi.
6
Jurnal
Pembelian
Fitur jurnal pembelian digunakan untuk pencatatan tansaksi pembelian barang dagang secara kredit.
7
Jurnal
Penjualan
Fitur jurnal penjualan digunakan untuk pencatatan
tansaksi penjualan barang dagang secara kredit.
8
Buku jurnal
Melakukan Simulasi pencatatan atau pembuatan laporan keuangan.
9
Neraca
Lajur
Fitur neraca lajur digunakan sebagai proses pencatatan kedalam neraca lajur untuk proses pembuatan laporan keuangan.
10
Rugi Laba
Fitur rugi laba digunakan sebagai proses pembuatan laporan rugi laba.
11
Neraca
Fitur Neraca digunakan sebagai proses pembuatan laporan neraca.

3.2.2 Kebutuhan Nonfungsional
Kebutuhan ini adalah tipe kebutuhan yang berisi property perilaku yang
dimiliki oleh sistem. 
Tabel 3.10. Kebutuhan Nonfungsional (Nonfunctional Requirement)
N0
Fitur
Deskripsi
1
Kalkulator
Dimana di sistem informasi keuangan ini tidak membutuhkan fitur kalkulator dikarena aplikasi ini secara otomatis akan menghitung semua transaksi sehingga menjadi laporan keuangan.
2
Sekurity
Dari segi keamanan sistem yang akan dibuat maka fitur
atau metode yang kami gunakan seperti :
a.      memberikan fitur Back Up database dimana admin bisa memback up database mereka.
b.      URL (Uniform Resource Locator) agar tidak terjadi  History URL maka kami engkripsi dengan engkripsi MD5.
c.       Password yang kami gunakan menggunakan engkripsi MD5. Jadi password yang di inputkan pengguna harus sama dengan password yang ada di server. 

3.3 Analisis study kelayakan 
Setelah mengetahui kelemahan dan permasalahan-permasalahan pada sistem lama dan adanya usulan sistem baru berupa perbuatan sistem website maka untuk mengetahui apakah sistem baru lebih baik maka perlu adanya analisis dan studi kelayakan pada sistem baru mencakup beberapa hal antara lain:
a. Analisis Kelayakan Teknik
Untuk dapat merealisasikan pembuatan Sistem Informasi Keuangan pada CV.Anugrah Abadi ini terlebih dahulu harus dilakukan analisis – analisis kelayakan. Secara teknis dalam pembuatan Sistem Informasi keuangan pada CV.Anugrah Abadi ini akan membutuhkan peralatan – peralatan meliputi sebuah komputer dengan spesifikasi minimal menggunakan prosesor Intel Pentium 4 atau yang setara selain Intel, kemudian sistem operasi Windows XP dan Windows7 aplikasi – aplikasi penunjang seperti Web Browser , dan Web Server. Kemudian setelah Sistem Informasi Keuangan pada CV.Anugrah Abadi jadi, untuk dapat menjalankannya, user cukup membutuhkan sebuah komputer atau laptop dimana komputer atau laptop tersebut terdapat sambungan internet atau extranet.

b. Analisis Kelayakan Operasional
Pembuatan Sistem Informasi Keuangan pada CV.Anugrah Abadi ini nantinya membutuhkan tenaga ahli yang bergerak dalam bidang Web server dan Web developer.Kami telah menguasai bidang – bidang tersebut. Sedangkan untuk menjalankan Sistem Informasi keuangan pada CV.Anugrah Abadi ini nantinya akan membutuhkan seorang Admin yang ahli dalam bidang Pengoprasian Web Server,Apache.Admin tersebut nanti akan diberi sedikit pelatihan tentang cara menjalankan Sistem Informasi keuangan pada CV.Anugrah Abadi yang kami buat.Sehingga setelah melihat kondisi seperti diatas, pembuatan Sistem Informasi keuangan pada CV.Anugrah Abadi ini dapat dikatakan layak untuk dikerjakan.
c. Analisis Kelayakan Ekonomi
  Sistem baru yang diusulkan harus memenuhi dua aspek yaitu besarnya dana yang diperlukan untuk pembuatan sistem yang diusulkan tersebut dan manfaat yang dihasilkan oleh sistem dibandingkan dengan biaya pembuatan. Adapun untuk menilai kelayakan sistem ini dengan menggunakan teknik rincian biaya dan manfaat.
3.4 Analisis Biaya Dan Manfaat
Menentukan apakah proyek sistem informasi keuangan layak atau tidak,digunakan juga analisis biaya dan manfaat. Biya terdiri dari dua katagori yaitu biaya yang berhibungan dengan pengembangan sistem, dan biaya yang berhubungan dengan oprasional sistem (perawatan) sistem informasi. 
3.4.1 Komponen Biaya
Melakukan analisis yang dilakukan komponen yaitu  komponen biaya dan komponen efektifitas, biaya yang berhubungan dengan pengembangan yaitu :
a. Biaya Pengadaan
Biaya Perangkat Lunak meliputi pembelian lisensi Operation Sistem,software-software pendukung,serta biaya pembuatan sistem. Biaya ini hanya dikeluarkan sekali pada saat proses pengadaan sistem.
b. Biaya Oprasianal
Biaya Operasional meliputi gaji pegawai, pembayaran sewa domain dan hosting setiap tahunnya, honor admin untuk perawatan serta pengembangan sistem. Di asumsikan setiap tahun, biaya yang dikeluarkan berjumlah sama.

c. Biaya Peningkatan Informasi
Nominal diatas didapat dari biaya-biaya sebelumnya (pada saat belum memiliki Sistem Informasi Keuangan) dikurangi dengan biaya pada saat sudah memiliki Sistem Informasi keuangan.Sebagai contoh, jika sebelumnya CV.Anugrah Abadi membutuhkan banyak kertas untuk pembuatan laporan keuangan, maka setelah adanya Sistem Informasi Keuangan ini pemilik dan pekerja dapat membuat laporan keuangan secara online dan mengunakan komputer. Setiap tahunnya, manfaat ini akan dirasakan dan terus meningkat beserta dengan berkurangnya biaya-biaya dalam pembuatan laporan keuangan dan pencatatan transaksi dan dapat meningkatkan kualitas pekerja.
d.  BiayaPeningkatam Kinerja 
 Nominal diatas didapat dari biaya-biaya sebelumnya ( pada saat belum memiliki Sistem Informasi Keuangan) dikurangi dengan biaya pada saat sudah memiliki Sistem Informasi Keuangan.Jika sebelum memiliki Sistem Informasi Keuangan, membutuhkan banyak sumber daya manusia untuk penyusunan sebuah laporan keuangan, maka dengan adanya Sistem Informasi Keuangan ini akan mengurangi sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam hal pembuatan dan pencatatan transaksi sehingga menjadi laporan keuangan yang di butuhkan oleh CV.Anugrah Abadi.
e. Peningkatan Citra Perusahaan
Nominal diatas didapat dari biaya-biaya sebelumnya ( pada saat belum memiliki Sistem Informasi Keuangan) dikurangi dengan biaya pada saat sudah memiliki Sistem Informasi Keuangan. Untuk pembuat laporan keuangan mengenai CV.Anugrah Abadi, dibutuhkan banyak biaya kertas, bolpen dan juga pihak-pihak yang akan mengerjakan laporan keuangan itu. Maka, dengan adanya Sistem Informasi Keuangan ini diharapkan dapat mengurangi biaya oprasional atau biaya pembuatan laporan keuangan dan pencatatan transaksi.
3.5 Ujicoba Sistem
Implementasi Program Sistem Informasi Keuangan Berbasis web pada CV.Anugrah Abadi merupakan tahap paling penting dimana sistem yang sudah dirancang, diimplementasikan untuk menghasilkan sistem sesuai yang diinginkan.Semua rencana ini digunakan untuk mempermudah dalam penjabaran sistem ke dalam bahasa pemrograman. Pada Sistem Informasi Keuangan Berbasis web pada CV.Anugrah Abadi smempunyai bagian – bagian yang harus dipenuhi dalam membuat sistem informasi keuangan berbasis web, yaitu :Implementasi Jurnal Umum Pengimplementasiaan jurnal umum sangat penting dalam sistem ini karena pembuatan jurnal umum mempunyai peran penting dalam pembuatan.

Jumat, 18 Oktober 2013

Memmbengun sistem keuangan.


                                  MEMBANGUN SISTEM KEUANGAN

  
 Nama : Nopemberianus lahagu
                                                                                                  Nim : A2.1100182 
                                                                                                  Kelas : V_E

1.     1. Penyebab Melemahnya Sistem Dan Keuangan.

Permasalahan permodalan dalam gerakan koperasi sudah menjadi masalah klasik dari masa ke masa yang sepertinya benang kusut dalam pengembangan koperasi. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah, untuk memajukan koperasi. Trilyunan rupiah, sudah dikeluarkan, untuk membantu koperasi mengembangkan permodalannya. Namun yang dihasilkan dirasakan belumlah sepadan dengan apa yang diharapkan dari besarnya dana yang dikucurkan tersebut.
Sebenarnya, yang menjadi masalah dari koperasi, untuk berkembang, adalah pada system keuangan koperasi yang dijalankan. Pada koperasi, terdapat yang disebut sebagai intermediasi keuangan. Yang artinya proses pembelian dana dari unit surplus (penabung) untuk selanjutnya disalurkan kembali kepada unit defisit (peminjam), yang bisa terdiri dari unit usaha, pemerintah dan juga rumah tangga. Dengan kata lain, intermediasi keuangan merupakan kegiatan pengalihan/penyaluran dana dari penabung (kelebihan dana) kepada peminjam (kekurangan dana), yang dilakukan oleh lembaga keuangan sebagai mediator. Koperasi berbagai jenis beserta jaringannya kita sudah punya namun belum efektif dalam melaksanakan fungsi intermediasi keuangan, baik untuk anggota apalagi antar koperasi. Ini dapat dilihat dari jauh lebih sedikitnya simpanan anggota dibandingkan kebutuhan pinjaman, dibandingkan dengan Simpedes dan Kupedes, misalnya. Tidak berjalannya intermediasi tersebut tidak saja di kalangan anggota koperasi saja, tapi juga antar koperasi. Ini terjadi karena memang tidak ada lembaga intermediasi
Uang beredar di dalam gerakan koperasi yang status kepemilikannya masih “abu abu”, dengan nama “dana bergulir” (seperti pada Program kompensasi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (PKPS BBM) untuk mas
2.      yarakat yang disalurkan melalui koperasi dimulai pada tahun anggaran 2000). Jumlahnya sangat besar, dan jika dikelola dengan baik akan menghasilkan kapitalisasi dana yang sangat besar. Namun pengelolaan dana tersebut dalam suatu “system” yang terpadu, dengan jaringan intermediasi keuangan yang tersebar, dan dengan dipandu oleh suatu sistem prosedur pengelolaan keuangan yang baik yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga yang kredibel, sampai saat ini belum terwujud. Sudah saatnya kita membangun system kelembagaan keuangan koperasi yang kuat.

2. Program-program Pemerintah dalam Membangun Sistem dan Keuangan Koperasi.

Membahas sedikit mengenai PKPS BBM. PKPS BBM ini diimplementasikan dalam bentuk Program Pengembangan Usaha Mikro dan Kecil melalui Perkuatan Struktur Keuangan Lembaga Kuangan Mikro (LKM) dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP)/Unit Simpan Pinjam (USP) Koperasi. Program yang pada dasarnya ditujukan untuk menanggulangi dampak pengurangan subsidi BBM kepada masyarakat ini di Kementerian Koperasi dan UKM dilaksanakan dengan pola dana bergulir, sehingga lebih dikenal sebagai Program Dana Bergulir PKPS BBM. Program dana bergulir PKPS BBM yang dimulai tahun 2000 ini, sampai dengan tahun anggaran 2003, dana yang telah disalurkan adalah sebanyak Rp 617,400 milyar untuk sekitar 5174 KSP/USP dan 2000 LKM, yang tersebar di 416 kab/kota. Pada tahun 2000 disalurkan dana sebesar RP 342,5 milyar untuk 2925 KSP/USP dan 1000 LKM, tahun 2001 disalurkan dana sebesar Rp. 50 milyar untuk 1000 LKM, tahun 2002 disalurkan dana sebesar Rp 78,5 milyar untuk 785 KSP/USP, dan pada tahun 2003 disalurkan dana sebesar Rp 146,4 milyar untuk 1464 KSP/USP. Pada tahun anggaran 2004 disalurkan dana sebesar Rp 134,4 milyar dan Pada tahun anggaran 2005 dialokasikan dana sebesar Rp 18 milyar dari bujet Kementerian Koperasi dan UKM dan Rp 100 milyar dari Anggaran Biaya Tambahan akan disalurkan melalui program ini. Dana yang telah disalurkan tersebut, sesuai dengan petunjuk teknis dari Kementerian Koperasi dan UKM, harus terus digulirkan kembali di dalam gerakan koperasi kepada KSP/USP yang belum mendapatkan giliran menerimanya. Kabarnya dana tersebut telah berkembang pesat hingga lebih dari dua kali lipat. Dana bergulir ini dikenakan bunga sebesar 16%, dimana sebesar 10% diperuntukan sebagai pemupukan modal yang akan digunakan untuk pengguliran kembali. Dengan ketentuan peruntukan pemupukan modal sebesar 10% tersebut, dengan asumsi perguliran dana dan pemupukan modal tersebut berjalan baik, maka setidaknya pada akhir tahun 2006 ini telah tersedia dana dalam jaringan KSP/ USP dan LKM tersebut sebesar Rp 1.270,771 milyar (lihat tabel) yang dapat digunakan oleh gerakan koperasi.

Tabel : Penyaluran Dana Bergulir PKPS BBM dan Asumsi Dana Tersedia.
No Tahun Dana (Milyar Rp) Asumsi DanaTersedia (Milyar Rp)
1 2000 342,500 551,600
2 2001 50,000 73,205
3 2002 78,500 104,484
4 2003 146,400 194,858
5 2004 134,400 162,624
6 2005 100,000 110,000
7 2006 74,000 74,000
TOTAL 925,800 1,270,771

Dari tabel di atas, terlihat, dana yang mengalir untuk koperasi itu, bukan dana yang sedikit. Sebenarnya itu, dapat dimanfaatkan oleh setiap koperasi dalam mengembangkan koperasinya. Tapi dalam kenyataanya, hal tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. Koperasi yang ada, tetap saja, belum mampu membuktikan keberadaan mereka secara nyata. Yang kita tahu, suatu koperasi ada, tapi kita tidak tahu apakah koperasi itu berkembang atau tidak, apakah koperasi itu hidup atau tetap jalan ditempat, tanpa perkembangan yang berarti. Maka dari itu, diharapkan, koperasi yang sudah menerima dana-dana bergilir yang dikeluarkan oleh pemerintah ini, dapat bekerja dengan semaksimal mungkin memajukan koperasinya.
JAKARTA Kementerian Negara Koperasi dan UKM mengusulkan pendirian lembaga penjamin simpanan koperasi jasa keuangan (LPS-KJK) dengan modal awal sebesar Rp500 miliar dari Departemen Keuangan. “Pendirian dimaksudkan untuk mendorong kekuatan ekonomi pada level masyarakat usaha mikro dan kecil yang tergabung dalam koperasi Indonesia," ujarnya kepada Bisnis pekan lalu. Menurut Agus, modal itu bisa digabung dengan dana koperasi yang bersedia ikut program penjaminan dengan syarat bersedia membayar iuran. Dengan demikian, katanya ke depan koperasi bisa mengandalkan kekuatan modalnya sendiri karena sudah ada lembaga penjamin tersebut. Selain itu, kelahiran LPS-KJK dimaksudkan untuk meningkatkan gerakan menabung dari anggota koperasi dengan sistem tanggung renteng. Sistem ini terbukti berhasil meningkatkan perkembangan koperasi yang dikelola wanita. "LPS-KJK akan diperkuat, oleh undang-undang seperti halnya LPS perbankan. Adapun jum-lah dana yang dijamin melalui program ini cukup Rp50 juta ke bawah. Mestinya pendirian lembaga itu bisa direalisasi." Agus mengemukakan target pendirian LPS-KJK pada tahun ini karena persiapan sudah dilaksanakan. Sebelum direalisasikan, akan ada blueprint yang dihasilkan tim antarinstansi. Untuk meningkatkan kapasitas simpanan anggota di koperasi, penjaminan Rp50 juta bisa dinaikkan jumlahnya secara bertahap. Konsep ini sangat mendukung peningkatan kualitas koperasi karena sudah diizinkan menyimpan dana anggota koperasi lain. Dengan adanya jaminan keamanan bagi anggota penyimpan uang di koperasi, gerakan menabung di koperasi dipastikan lebih bergairah, terutama pada kelompok pelaku usaha mikro dan kecil. LPS perbankan merupakan program penjaminan pemerintah [blanket guarantee) untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan melalui Undang-Undang No.24/ 2004. Operasional program ini akan sama dengan LPS-KJK yang berfungsi menjamin simpanan nasabah. LPS akan membayar simpanan nasabah apabila ada koperasi kesulitan keuangan sesuai jumlah jaminannya.
Berikut ini, Program - Program yang direncanakan oleh pemerintah untuk koperasi:
1. Mengembangkan dan memfasilitasi peningkatan kompetensi SDM pengurus koperasi
2. Mengembangkan standar kompetensi pengurus dan pengelola koperasi berdasarkan attitude, skills, knowledge, experience, responsibilitas dan akuntabilitas.
3. Memfasilitasi sertifikasi kompetensi pengurus dan pengelola koperasi dengan mengembangkan lembaga sertifikasi kompetensi SDM pengurus dan pengelola koperasi.
4. Mengembangkan sistem magang terarah bagi siswa tamatan sekolah kejuruan dan pesantren.
5. Memfasilitasi beasiswa program D3/ S1 bagi pengelola dan kader koperasi.
6. Meningkatkan peran serta gerakan koperasi dalam melaksanakan pola pendidikan terpadu kepada anggota, calon anggota serta masyarakat di sekitarnya khususnya bagi KSP/USP.
7. Mengembangkan mekanisme layanan usaha terpadu dalam rangka menumbuhkan unit usaha baru.
8. Mengembangkan sistem belajar kewirausahaan jarak jauh seperti melalui metode-metode e-Learning.
9. Mengembangkan bengkel latihan kerja di lingkungan pondok pesantren.
10. Memfasilitasi pelaksanaan diklat bagi SDM dari 70.000 unit koperasi aktif sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
11. Meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM Lapenkopda.
12. Mengotimalkan kapasitas Lapenkopda dalam menyelenggarakan pendidikan kepada gerakan koperasi dan anggotanya.
13. Meningkatkan kualitas modul-modul dan bahan ajar kewirakoperasian dan kewirausahaan, serta mendistribusikannya kepada gerakan koperasi dan masyarakat terutama kelompok strategis, dan lain-lain
14. Mengembangkan lembaga advokasi KUKM.
15. Pembinaan dan supervisi pada SDM Koperasi pasca diklat.
16. Mengembangkan dan melaksanakan sistem perencanaan, fasilitasi, pemantauan dan pengendalian pengembangan SDM koperasi di Indonesia.
17. Menyusun modul dan bahan ajar kewirakoperasian dan kewirausahaan, serta mendistribusikannya kepada gerakan koperasi dan masyarakat terutama kelompok strategis, dan lain-lain.
Banyak lagi contoh program-program yang telah dan ingin dijalankan oleh pemerintah untuk memajukan koperasi di Indonesia. Tetapi suatu koperasi tidak akan bisa berkembang, kalau dari dalam koperasi itu, system-system yang ada, tidak berjalan sesuai dengan aturannya atau sistematikanya.

3. Cara Membangun Sistem dan Keuangan Koperasi.
Dalam Manajemen Koperasi “Perencanaan strategis” adalah pengambilan keputusan saat ini untuk koperasi yang akan dilakukan pada masa datang. Pengambilan keputusan dalam organisasi Koperasi Indonesia harus mempertimbangka Sumber daya, kondisi saat ini serta peramalan terhadap keadaan yang mempengaruhi koperasi dimasa yang akan datang.
Untuk melakukan perencanaan Strategis dalam koperasi maka pengurus koperasi harus memperhatikan 4 aspek penting yaitu masa depan dan peramalanya, aspek lingkungan baik internal atau eksternal, target kedepan dan terakhir strategi untuk pencapaian target.
Organisasi Koperasi seacara kelembagaan harus mempunyai perangkat organisasi koperasi yang menjadi sarana dalam pencapaian tujuan koperasi. Perangkat fundamental dalam perencanaan strategis yang kemudian menja  di kelengkapan organisasi yang wajib ada adalah parameter-parameter idialisme dasar seperti; visi, misi, goal, objektif.
Untuk mempercepat percapaian Renstra (Perencanaan Strategi) koperasi diperlukan:
- Spesific ( kekhususan)
- Measurable ( Terukur)
- Achieveable ( Dapat dicapai)

3.      - Rationable ( Rasional, dapat dipahami)
- Timebound ( Ada limit/batas waktu)

Renstra koperasi pertama kali kita rumuskan dengan 3 menjawab pertanyaan mendasar:
- Dimana koperasi kita saat ini berada, dan akan kemana arahan koperasi kita?
- Kemana tujuan koperasi kita, ingin pergi kemana koperasi kita.?
- Bagaimana atau dengan apa koperasi kita pergi atau mencapai tujuan tersebut?

Secara terperici tahapan menyusun Renstra koperasi adalah sebagai berikut.
Melakukan Analisa SWOT untuk koperasi Kita
Perumusan SWOT ditujukan sebagai dasar pembuatan strategi. Analisa SWOT adalah pola evaluasi yang mengklasifikasikan kondisi koperasi dengen SWOT yaitu Streght (Kekuatan), Weakness (Kelemahan koperasi Kita), Oportunity (Peluang Koperasi kita) dan threat (ancaman pada Koperasi). Pengurus harus mengklasifikasikan hal-hal diatas menjadi sebuah tabel yang kemudian dijadikan dasar sebagai pengambilan keputusan dalam renstra koperasi.Seorang pengurus koperasi harus paham betul kondisi koperasinya, Pengurus harus mampu melakukan forecasting atau peramalan kondisi kedepan. Dari forecasting ini kemudian di rumuskan asumsi-asumsi yang relevan. Dari pemetaan kondisi dan permalahan inilah kemudian di rumuskan analisi SWOT Koperasi. Proses pertama yang harus dilakukan adalah evaluasi diri, dari sini akan ditemukan "strengths" dan weaknesses serta sumberdaya organisasi. Kemudian analisa kondisi eksternal, seperti kondisi pasar, social, ekonomi dan budaya akan meminculkan opportunities dan threats.
Menentukan target Koperasi. Setelah analis SWOT koperasi selesai dilakukan langkah berikutnya adalah menntukan target. Fase ini merupakan salah satubagian terpenting dari penyusunan strategi koperasi. Target ini diperoleh dari proses telaah realistis terhadap analisa SWOT yang telah ditentukan sebelumnya dan target koperasi harus diyakini oleh seluruh komponen organisasi koperasi, bahwa koperasi mampu mencapainya.
Fase ini adalah upaya penyusunan siasat untuk menyelesaikan permasalahan koperasi sekaligus cara untuk pencapaian target koperasi.
Hasil Renstra Koperasi biasanya berupa Garis-Garis Besar program Kerja ( GBPK ) Koperasi yang juga harus disertai dengan Perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belenja Koperasi (APBK) hasil perumusan Renstra akan dibaha dan Disahakan di RAT Koperasi.
System koperasi erat hubungannya dengan manajemen koperasi. Jadi, hal utama yang harus dilakukan dalam manajemn koperasi, diantaranya:
1. Dari anggota. Dalam manajemen harus direalisasikan melalui berbagai cara antara lain :
- Dengan penuh tanggung jawab melaksanakan anggaran dasar dan keputusan rapat anggota.
- Memberikan suara persetujuan dan pro terhadap sesuatu yang membaikkan suatu koperasi, seperti meminta atau mengusulkan pemeriksaan terhadap keuangan yang ada dalam koperasi, andaikata, anggota merasa ada kejanggalan.
- Membantu permodalan koperasi sesuai dengan kemampuan masing – masing dan memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan, dalam hal simpanan wajib dan lain-lain.

2. Dari pengurus. Dalam manajemen harus direalisasikan melalui berbagai cara antara lain :
- Mengelola koperasi dan usaha yang berhubungan dengan maju mundurnya koperasi dengan memanfaatkan semua sumber daya yang ada. Tidak merasa ingin mengambil keuntungan pribadi dalam menjalankan tugas.
- Mengajukan (a) rencana pendapatan, dan (c) rencana pendapatan (c) rencana biaya, dengan rasional.
- Apabila koperasi semakin besar maka diperlukan karyawan, sehingga pengurus dapat di bantu oleh para karyawan. Dalam hal ini, pengurus jangan merasa dirinya disingkirkan, atau pun merasa dirinya mampu melaksanakan semua tugas.

3. Dari Pengelola harus melayani anggota secara efisien, ramah dan mampu bersaing.

Selain itu, tambahan pula, Manajemen koperasi harus dapat mengantisipasi perubahan dengan melakukan perbaikan dan penyesuaian seperti:
• Melakukan diversifikasi usaha.
• Memperbaiki struktur keanggotaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan anggota.
• Mengadakan partisipasi anggota secara demokratis dalam proses manajemen, sehingga perencanaan pendidikan anggota dapat terwujud.
• Mengadakan penelitian, analisis, diskusi, dan penggalian segala aspek yang berkaitan yang akan memungkinkan dilakukannya penggabungan gerakan kelembagaan.
• Mempunyai niat yang lebih serius dan lebih jernih dari semua lapisan yang terkait kepada koperasi untuk benar – benar mengembangkan koperasi Indonesia sebagai srana untuk kesejahteraan.
• Mempercepat proses pendidikan kader – kader koperasi, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat.